Jahe dikenal dengan nama umum (Inggris) ginger atau
garden ginger. Nama ginger berasal dari bahasa Perancis:gingembre, bahasa
Inggris lama:gingifere, Latin: ginginer, Yunani (Greek): zingiberis
(ζιγγίβερις). Namun kata asli dari zingiber berasal dari bahasa Tamil inji ver.
Istilah botani untuk akar dalam bahasa Tamil adalah ver, jadi akar inji adalah
inji ver. Di Indonesia jahe memiliki berbagai nama daerah. Di Sumatra disebut
halia (Aceh), beuing (Gayo), bahing (Karo), pege (Toba), sipode (Mandailing),
lahia (Nias), sipodeh (Minangkabau), page (Lubu), dan jahi (Lampung). Di Jawa,
jahe dikenal dengan jahe (Sunda), jae (Jawa), jhai (Madura), dan jae (Kangean).
Di Sulawesi, jahe dikenal dengan nama layu (Mongondow), moyuman (Poros), melito
(Gorontalo), yuyo (Buol), siwei (Baree), laia (Makassar), dan pace (Bugis). Di
Nusa Tenggara, disebut jae (Bali), reja (Bima), alia (Sumba), dan lea (Flores).
Di Kalimantan (Dayak), jahe dikenal dengan sebutan lai, di Banjarmasin disebut
tipakan. Di Maluku, jahe disebut hairalo (Amahai), pusu, seeia, sehi (Ambon),
sehi (Hila), sehil (Nusalaut), siwew (Buns), garaka (Ternate), gora (Tidore),
dan laian (Aru). Di Papua, jahe disebut tali (Kalanapat) dan marman (Kapaur).
Adanya nama daerah jahe di berbagai wilayah di Indonesia menunjukkan penyebaran
jahe meliputi seluruh wilayah Indonesia. Karena jahe hanya bisa bertahan hidup
di daerah tropis, penanamannya hanya bisa dilakukan di daerah katulistiwa
seperti Asia Tenggara, Brasil, dan Afrika. Saat ini Equador dan
Brasil menjadi pemasok jahe terbesar di dunia. Dalam sistematika tumbuhan,
tanaman jahe termasuk dalam kingdom Plantae, Subkingdom Tracheobionta,
Superdivisi: Spermatophyta, Divisi: Magnoliophyta/Pteridophyyta, Subdivisi:
Angiospermae, Kelas: Liliopsida-Monocotyledoneae, Subkelass: Zingiberidae,
Ordo: Zingiberales, Suku/Famili: Zingiberaceae, Genus: Zingiber P. Mill.
Species: Zingiber officinale (Roscoe, 1817) (US National Plant Database 2004).
Sinonim nama jahe adalah : Amomum angustifolium Salisb., dan Amomum
zingiber L. Ada sekitar 47 genera dan 1.400 jenis tanaman yang termasuk dalam
dalam suku Zingiberaceae, yang tersebar di seluruh daerah tropis dan sub tropis.
Penyebaran Zingiber terbesar di belahan timur bumi, khususnya Indo Malaya yang
merupakan tempat asal sebagian besar genus Zingiber (Lawrence 1951: Purseglove
1972). Di Asia Tenggara ditemukan sekitar 80-90 jenis Zingiber yang
diperkirakan berasal dari India, Malaya dan Papua. Namun hingga saat ini,
daerah asal tanaman jahe belum diketahui. Jahe kemungkinan berasal dari China
dan India (Grieve 1931; Vermeulen 1999) namun keragaman genetik yang luas
ditemukan di Myanmar (Jatoi et al. 2008) dan India, yang diduga merupakan pusat
keragaman jahe (Ravindran et al. 2005). Jahe memiliki jumlah kromosom 2n=2x=22,
namun beberapa kultivar jahe diketahui sebagai poliploid (Kubitzki, 1998).
Darlington dan Ammal (1945) dalam Peter et al. (2007) melaporkan terdapat jenis
Z. officinale yang memiliki jumlah kromosom sebanyak 28. Darlington dan Wylie
(1955) juga menyatakan bahwa pada jahe terdapat 2 kromosom B. Rachmandran
(1969) melakukan analisis sitologi pada 5 spesies Zingiber dan menemukan pada
seluruh spesies memiliki jumlah kromosom 2n=22. Ratnabal (1979)
mengidentifikasi kariotipe 32 kultivar jahe (Z. officinale) dan menemukan
seluruh kultivar jahe memiliki kromosom somatik berjumlah 22 dan ditemukan pula
adanya kromosom asimetris (kromosom B) pada seluruh kultivar kecuali kultivar
Bangkok dan Jorhat. Beltram dan Kam (1984) dalam Peter et al. (2007)
mengobservasi 9 Zingiber spp. dan menemukan bahwa Z. officinale bersifat
aneuploid (2n=24), polyploid (2n=66) dan terdapat B kromosom (2n= 22+2B).
Tetapi Etikawati dan Setyawan (2000), Z. officinale kultivar jahe putih kecil
(emprit), gajah dan merah memiliki jumlah kromosom 2n=32. Eksomtramage et al.
(2002) mengamati jumlah kromosom 3 spesies Z. officinale asal Thailand dan
menemukan 2n=2x=22. Yulianto (2010) menyatakan jumlah kromosom jahe putih dan
jahe merah yakni 2n=24=22+2B. Rachmandran (1969) melakukan analisis sitologi
pada 5 spesies Zingiber, selain menemukan jumlah khromosom pada seluruh spesies
2n=22 juga membuktikan adanya struktur pindah silang akibat peristiwa inversi.
Observasi pada fase metaphase mitosis menemukan bahwa jahe diploid (2n=2x=22)
memiliki panjang kromosom rata-rata 128.02 μm dan lebar 5.82 μm. Rasio lengan
kromosom terpanjang dan terpendek adalah 2.06:1, hampir 45,5% kromosom memiliki
2 lengan dan terdapat 2 kromosom yang berbeda (Zhi-min et al. 2006). Adanya
variasi pada jumlah kromosom merupakan suatu mekanisme adaptasi dan pembentukan
spesies pada tanaman. Hal ini juga menjadi penyebab terjadinya variasi genetik
pada jahe. Selain itu ditemukannya struktur pindah silang diduga menjadi
penyebab rendahnya fertilitas tepung sari yang menyebabkan pembentukan buah dan
biji pada jahe jarang terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar